Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Telkom Malang bekerjasama dengan PT Merkle Inovasi Teknologi. Kerjasama ini untuk mengembangkan potensi lulusan sekaligus menjembatani kebutuhan industri merekrut sumber daya manusia mumpuni.
Seremonial kerjasama itu berlangsung di SMK Telkom Malang, Senin (18/11/2024). Kedua belah pihak secara resmi meluncurkan program Merkle Innovation Core (MIC).
Kepala Sekolah SMK Telkom Malang, Rahmat Dwi Jatmiko mengungkapkan apresiasinya atas kerjasama tersebut.
Menurutnya, kerjasama sekolah kejuruan dengan dunia industri sangat penting untuk menjembatani lulusan ke dunia kerja. Saat ini, kerjasama antara sekolah kejuruan dengan dunia industri menjadi sebuah kewajiban.
"Saya sangat apresiasi Merkle Innovation Core (MIC). Ini implementasi kemitraan SMK, karena hal yang wajib di SMK harus memiliki mitra. Tidak sekadar rekrutmen, tapi juga mampu membangun ekosistem yang sama. MIC menyiapkan proses yang detail, tidak hanya booth camp saja," ujarnya, Senin (18/11/2024).
Dipaparkan Rahmat, SMK Telkom Malang fokus di industri informasi dan telekomunikasi. Ada tiga program unggulan yang mereka kerjakan. Pertama program di rekayasa perangkat lunak, lalu teknologi komputer dan jaringan, dan pengembangan gim.
Rahmat menyebut, tiga program itu dapat dikolaborasikan dengan pihak Merkle. Diharapkan, pengembangan kerjasama itu bisa meningkatkan pengembangan teknologi yang ada sekarang di sekolah.
"Teman-teman industri dan sekolah sudah bergerak. Salah satu kurikulum akan dijalankan besok, yakni Mendix Development. Ini teknologi yang baru bagi kami di sekolah. Industri tidak sekadar menjelaskan, tapi juga mempraktikan di sekolah sehingga anak-anak bisa mengembangkan aplikasi berbasis low code," paparnya.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Telkom Malang bekerjasama dengan PT Merkle Inovasi Teknologi, Senin (18/11/2024).
Antonius Kurniawan, Chief Information Officer dari PT Merkle Inovasi Teknologi menguraikan, mendix development program adalah platform low code. Platform yang dioperasikan dengan koding sederhana. Dengan begitu, pembuatan aplikasi bisa dilakukan dengan cepat dan sederhana.
"Kita bisa buat aplikasi dengan minimum coding. Dengan simple design, aplikasi bisa terbentuk. Era sekarang, kalau masih menggunakan conventional code, memakan banyak waktu. Harapannya dengan teknologi ini, aplikasi yang dibuat bisa lebih cepat. Makannya sasarannya di RPL," ujar Merkle.
Antonius mengatakan, tidak banyak dunia industri di Indonesia menerapkan sistem tersebut. Apalagi di tingkatan sekolah. Oleh karena itu, kerjasama dengan SMK Telkom Malang akan membuka jalan pembelajaran terhadap sistem itu bagi pelajar.
"Nah, salah satu keunggulannya lagi adalah ini adalah platform yang kompatibel. Sudah digunakan oleh misal Microsoft. Ketika mereka mengembangkan sistem, maunya kan integrasi, dulu masih manual, banyak kesulitan," paparnya.
sumber:TribunJatimTimur